Notification

×

Iklan

Iklan

Jika Rezeki Terasa Sempit, Mungkin Bukan Uang yang Kurang, Tetapi Cara Pandang yang Perlu Diluruskan

Minggu, 04 Januari 2026 | Januari 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-04T12:40:33Z

Sering kali ketika mendengar kata rezeki, pikiran kita langsung tertuju pada angka, gaji, saldo rekening, atau lembaran uang yang bisa dihitung. Kita mengukur cukup dan tidaknya hidup dari seberapa banyak yang masuk ke dompet, seberapa besar penghasilan per bulan, dan seberapa cepat kebutuhan bisa terpenuhi. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, rezeki yang Allah berikan kepada manusia jauh lebih luas daripada sekadar uang.


Allah Maha Mengetahui kebutuhan setiap hamba-Nya. Tidak semua orang diuji dengan kekurangan materi, dan tidak semua orang diuji dengan kelimpahan harta. Sebagian diuji dengan sedikit, sebagian dengan banyak, dan keduanya sama-sama ujian. Karena itu, menyempitkan makna rezeki hanya pada uang sering kali membuat kita lupa mensyukuri nikmat lain yang sebenarnya jauh lebih berharga.


Rezeki pertama yang sering kita lupakan adalah nikmat hidup dan bernapas. Setiap tarikan napas adalah rezeki yang tidak pernah kita minta secara langsung, tetapi Allah berikan tanpa henti. Tidak ada satu pun manusia yang mampu membeli udara, namun tanpanya kita tidak akan mampu bertahan hidup. Ketika Allah masih memberi kita kesempatan bangun setiap pagi, sejatinya kita sedang menerima rezeki yang sangat besar.


Rezeki juga hadir dalam bentuk kesehatan. Tubuh yang mampu bergerak, mata yang masih bisa melihat, telinga yang masih bisa mendengar, dan kaki yang masih sanggup melangkah adalah nikmat yang sering baru disadari ketika ia mulai hilang. Banyak orang memiliki harta melimpah, tetapi rela menukarnya dengan kesehatan yang tidak bisa dibeli oleh uang sebanyak apa pun.


Selain itu, Allah juga menganugerahkan rezeki berupa waktu dan kesempatan. Waktu untuk belajar, waktu untuk memperbaiki diri, waktu untuk bertaubat, dan waktu untuk mendekat kepada-Nya. Ada orang yang kaya secara materi, tetapi miskin waktu. Hidupnya habis untuk mengejar dunia, hingga lupa bahwa waktu adalah modal utama menuju akhirat.


Rezeki tidak selalu datang dalam bentuk apa yang kita inginkan, tetapi sering kali datang dalam bentuk apa yang kita butuhkan. Ketika kita berharap uang, Allah memberi ketenangan. Ketika kita berharap kemudahan, Allah memberi kesabaran. Ketika kita berharap jawaban, Allah memberi proses. Semua itu tetap rezeki, meski tidak selalu terasa menyenangkan di awal.


Salah satu rezeki terbesar yang jarang disadari adalah keluarga dan orang-orang baik di sekitar kita. Orang tua yang masih mendoakan, sahabat yang menguatkan, guru yang menuntun, dan orang-orang yang hadir di saat kita jatuh adalah bentuk rezeki yang tidak ternilai. Tidak semua orang diberi lingkungan yang baik, dan tidak semua orang memiliki orang-orang yang tulus dalam hidupnya.


Rezeki juga bisa berupa ketenangan hati. Ada orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya lapang dan tidurnya nyenyak. Sebaliknya, ada yang hidup berkecukupan, tetapi hatinya penuh gelisah dan tidak pernah merasa cukup. Ketenangan adalah nikmat yang sangat mahal, dan sering kali hanya bisa dirasakan oleh mereka yang dekat dengan Allah.


Bahkan ujian dan kesulitan pun bisa menjadi rezeki jika kita memandangnya dengan iman. Melalui ujian, Allah membersihkan dosa, menguatkan jiwa, dan mendewasakan hati. Banyak orang yang justru menemukan makna hidup, kedekatan dengan Allah, dan keikhlasan yang dalam melalui masa-masa sulit. Rezeki tidak selalu berbentuk kesenangan; terkadang ia hadir dalam bentuk pelajaran.


Ilmu dan pemahaman juga merupakan rezeki yang agung. Tidak semua orang diberi kemampuan untuk memahami kebenaran, menerima nasihat, atau tersentuh hatinya oleh ayat-ayat Allah. Ketika Allah membukakan pintu ilmu dan kesadaran, itu adalah rezeki yang lebih berharga daripada harta.


Rezeki pun hadir dalam bentuk kemampuan untuk bersyukur. Banyak orang diberi nikmat, tetapi tidak mampu merasakannya. Sebaliknya, ada orang yang hidup dengan sederhana, tetapi mampu bersyukur dan merasa cukup. Rasa cukup adalah rezeki yang menenangkan, karena ia membebaskan hati dari rasa iri dan tamak.


Allah membagi rezeki dengan sangat adil, meski cara pandang manusia sering berbeda. Apa yang terlihat sedikit bagi kita, bisa jadi besar di sisi Allah. Apa yang terasa tertunda, bisa jadi sedang dipersiapkan dengan cara terbaik. Allah tidak pernah salah dalam memberi, dan tidak pernah lalai dalam mengatur.


Ketika kita mulai memahami bahwa rezeki bukan hanya uang, hidup menjadi lebih lapang. Kita tidak lagi mudah mengeluh ketika penghasilan terbatas, karena kita sadar masih banyak nikmat lain yang menyertai. Kita tidak lagi iri pada kehidupan orang lain, karena kita tahu setiap orang memiliki bagian rezekinya masing-masing.


Pada akhirnya, rezeki yang paling besar adalah iman dan hidayah. Karena dengan iman, sedikit terasa cukup. Dengan hidayah, hidup terasa terarah. Dan dengan kedekatan kepada Allah, apa pun keadaan kita, hati tetap menemukan rumahnya.


Maka, jika hari ini kita merasa rezeki terasa sempit, cobalah berhenti sejenak dan melihat kembali hidup kita. Bisa jadi Allah sedang melimpahkan rezeki dalam bentuk yang selama ini kita abaikan. Rezeki tidak selalu berbunyi seperti uang yang masuk ke rekening, tetapi sering kali berbisik lewat hal-hal sederhana yang membuat kita tetap bertahan, tersenyum, dan berharap.


Karena rezeki sejati bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa mampu kita mensyukuri apa yang telah Allah berikan.

Penulis : Ahmad Febryan
×
Berita Terbaru Update